Terima Kasih atas kesedian Anda untuk berkunjung ke blog yang sederhana ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi Kawan-kawan semua. Kritik, saran, serta komentar Anda sangat kami harapkan.
| 8 comments ]

Aduh! Saringan udaranya sepertinya kotor….. Apa harus dibawa ke bengkel ya?.... Aku sedang tidak punya uang untuk membayar ongkosnya…. Tampaknya aku harus mengambil uang dari dana sekolaah Jamie.. Bgaimana kalau aku tidak bisa membayar SPP-nya?... Rapornya jelek minggu lalu… Bagaimana kalau nilai-nilainya merosot dan dia tidak dapat masuk perguruan tinggi?.... Sarinag udaranya sepertinay kotor…….


Demikianlah kira-kira pikiran khawatir yang terus-menerus bergulir dalam suatu lingkaran melodrama sehari-hari yang tak ada habis-habisnya, suatu rentetan kecemasan akan membawa ke rentetan berikutnya dan akan kembali ke awal lagi. Contoh di atas diberikan oleh Lizabeth Roemer dan Thomas Borkovec, ahli-ahli osikologi dari Pennsylvania State University, yang penelitiannya tentang kekhawatiran (inti segala kecemasan) telah mengangkat topik itu sebagai gangguan kejiwaan menjadi bagian dari sains.

Tentu saja tidak ada salahnya seorang khawatir, dengan terus menerus memikirkan suatu masalah, yaitu memanfaatkan refeksi yang konstruktif, yang bisa jadi mirip khawatir dan dapat diperoleh suatu pemecahan. Sebenarnya, reaksi yang mendasari kekhawatiran adalah kewaspadaan terhadap bahaya yang mungkin, yang –tak diragukan lagi- merupakan bagian sangat penting bagi kelangsungan hidup selama perjalanan evolusi. Bila rasa takut memicu otak emosional, bagian dari rasa cemas yang muncul akan memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi, memaksa pikiran untuk terus-menerus memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan yang ada dan mengabaikan hal-hal lain untuk sementara waktu. Dalam artian tertentu, kekhawatiran merupakan latihan terhadap apa-apa yang tidak beres dan bagaimana mengatasinya; peran kekhawatiran adalah mencari pemecahan positif akan resiko dalam kehidupan dengan mengantisipasi bahaya sebelum bahaya itu muncul.

Yang merepotkan adalah kekhawatiran kronis yang terus-menerus berulang yaitu kekhawatiran yang tak berujung pangkal dan tak pernah mendekati pemecahan positif. Sutau analisis yang cukup dipercaya mengenai kekhawatiran kronis menyatakan bahwa kekhawatiran memiliki semua ciri pembajakan emosi tingkat rendah: kekhawatiran muncul entah dari mana, tak dapat dikendalikan, menimbulkan dengung kecemasan terus-menerus, tak dapat ditembus oleh nalar, dan mengunci orangnya ke dalam suatu pandangan tunggal yang kaku tentang masalah yang merisaukan. Bila siklus kekhawatiran yang sama ini semakin menghambat dan tak kunjung hilang, kekhawatiran itu kan berubah menjadi pembajakan saraf dan gangguan kecemasan yang berlanjut: fobia, terobsesi dan kompulsif, mudah panik. Pada masing-masing gangguan ini kekhawatiran tampil dalam polanya sendiri-sendiri, bagi penderita fobia, kecemasan terpaku pada situasi yang ditakutkan; bagi penderita obsesi, kekhawatiran terpusat pada bagaimana mencegah bencana yang ditakutkan; pada penderita mudah panik, kekhawatiran dapat terfokus pada takut mati atau pada kemungkinan terserang panik itu sendiri.

Pada setiap penyakit ini, ciri khasnya dalah kekhawatiran tampil dalam bentuk yang amat sangat berlebih-lebihan. Misalnya, seorang wanita yang mengalami pengobatan karena gangguan obsesif-kumpulsif melalukan serangkaian acara arutin yang menghabiskan sebagian besar waktunya: mandi selama 45 menit beberapa kali sehari, cuci tangan selama lima menit dua puluh kali atau lebih dalam sehari. Ia tidak mau duduk kecuali bila kursinya disucihamakan terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol. Ia juga tak mau menyetuh anak-anak atau hewan piaraan karena keduanya “terlampu kotor”. Semua kompulsi ini disebabkan oleh ketakutannya yang luar biasa hebat terhadap bibit penyakit; ia terus menerus risau bahwa tanpa mandi dan menyucihamakan segala sesuatunya, ia akan terserang penyakit dan mati.

Seorang wanita yang sedang menjalani pengobatan karena “gangguan kecemasan umum” (istilah psikiatri bagi orang yang terus-menurs dihinggapi rasa khawatir) menanggapi permintaan untuk mengungkapan apa yang dicemasakannnya selama satu menit sebagai berikut:

Mungkin saya tidak dapat melaukannya dengan baik. Ini terlalu dibuat-buat sehingga bukan merupakan indikasi yang sesungguhnya padahal kita perlu hal-hal yang betul nyata…. Karena bila tidak memperolah yang nyata, saya tidak akan sembuh. Dan bila saya tidak sembuh, saya tidak akan bahagia….

Dalam peragaan kecemasan akan kesemasan yang maat luar biasa tersebut, permintaan untuk mengungkapkan kecemasan hanya dalam satu menit itu, dalam beberap adetik saja, telah berkembang menjadi kontemplasi akan terjadinya bencana seumur hidup: “Saya tidak akan pernah bahagia”. Kecemasan biasanya mengikuti alur pemikiran semacam itu, kisah akan diri sendiri yang melompat-lompat dari satu masalah ke masalah lain dan amat sering melibatkan catastrophizing, yaitu membayangkan terjadinya tragedi mengerikan. Kekhawatiran hampir selalu diungkapakan pada telinga pikiran, bukan pada mata pikiran (jadi, dalam kata-kata, bukan dalam imaji) suat fakta yang amat berarti untuk mengendalikan kekhawatiran.

Borkovec dan rekan-reakannya mulai mempelajari kekhawatiran itu sendiri ketika mereka berupaya mencari pengobatan untuk insomnia. Menurut pengamatan peneliti-peneliti lain, kecemasan muncul dalam dua bentuk: kognitif, atau kecemasan yang muncul akibat adanya pikiran yang meriasukan, dan somatik, yaitu kecemasan yang mengakibatkan gejala-gejala fisologis, seperti berpeluh, jantung berdebar-debar, atau ketegangan otot. Menurut Borkovec, seorang penderita insomnia bukan karena alsan somatik. Yang membuat mereka selalu terjaga adalah pikiran-pikiran yang menganggu. Penderita insomnia adalah tukang khawatir kronis, dan tak henti-hentinya khawatir meskipun mereka sangat mengantuk. Salah satu cara yang berhasil untuk menolong mereka agar tertidur adalah menjauhkan mereka dari pikiran-pikiran yang mencemaskan, memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan hasil metode selaksai. Pendek kata, kekhawatiran dapat dihentikan dengan mengalihkan perhatian.

Tetapi, sebagian orang-orang yang mudah khawatir agaknya amat sulit melakuknnya. Borkovec yakin bahwa alasannya ada kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh dari kekhawatiran yang justru memperkuat kebiasaan tersebut. Kekhawatiran tampaknya juga memunculkan suat yang positif: kekhawatian adalah cara untuk menghadapi kemungkinan ancaman, mengatasi bahaya-bahaya yang mungkin datang. Fungsi kekhawatiran (apabila berhasil) adalah untuk melatih mengenali bahaya, dan menyajikan pemecahan untuk menghadapinya. Tetapi kekhawatiran tidak selalu sesukses itu.

Pemecahan dan pola padang yang baru akan suatu masalah biasanya tidak datang dari rasa khawatir, apalagi kekhawatiran kronis. Tukang-tukang khawatir biasannya bukan mencari pemecahan masalah potensial, mereka justru membayang-bayangkan bahaya itu sendiri, dan dengan cara sedemikian rupa menenggelamkan diri dalm ketakutan yang berkaitan dengan bahaya itu sementara tetap berpijak pada pola pikir yang sama. Penderita tahap kronis merisaukan segala macam sesuatu, sebagian besar di antaranya hampir tak mungkin terjadi; mereka menghawatirkan bahaya-bahaya dalam hidup mereka yang orang lain tak pernah merisaukannya.

Namun, penderita tahap kronis mengemukakan kepada Borkovec bahwa kekhawatiran membantu mereka, dan bahwa kekhawatiran mereka terus-menerus muncul, suatu lingkaran pemikiran yang didorong oleh kecemasan yang tak berujung. Mengapa kekhawatiran menjadi suatu yang mirip dengan kecanduan mental? Anehnya, sebagaimana diutarakan oleh Borkovac, kebiasaan khawatir itu begitu kuat sehingga mirip takhayul. Karena orang mengkhawatirkan banyak hal yang kecil kemungkinannya akan sungguh-sungguh terjadi (contoh: orang yang dikasihi tewas dalam kecelakaan, jatuh bangkrut, dan semacamnya), maka pasti ada daya tarik tersendiri dalam kekhawatiran, setidak-tidaknya bagi limbik yang primitif. Seperti jimat untuk mengusir roh-roh jahat, secara psikologis, kekhawatiran berguna untuk mencegah bahaya yang dicemaskan.

Bersambung ke Tulisan Mengatasi Kecemasan: Apa Aku Khawatir? (2)

Tulisan ini dikutip dari buku:
Emotional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ,. Daniel Goleman, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Read this | Baca yang ini



Widget by [ Tips Blogger ]

8 comments

bimbel online said...

thank infonya sukses ya...

cara mengobati wasir ambeien said...

salepsalwa
ramuanherbaluntukmengobatikanker
caramenyembuhkanbenjolanwasirluar
obattradisionalambyeneksternal
obatherbalwasirambeienampuh
obattradisionaluntukmenyembuhkan
anekaobatherbal
penyakitambeienluar
obatambeyendiluar
obatwasir
caramengobatiambeienluar
daununguobatwasir
obatdiabetesampuh
daununtukobatambeien
obatdiabetesyangampuh
obatwasiralami
obatdiabetespalingmujarab
caramengobatiambeyeunstadium34
obatdiabetespalingmanjur
merkobatbuatambeienapayangyang
obatdiabetespalingampuh
obatherbaldiabetesampuh
jualobattradisionalwasirampuh

Pelangsing Perut said...

nanti saya akan mencobanya gan,,mengatsi kekhawatiran aku..terimakasih informsinya gan..

Resep Masakan said...

makasih info nyaa......

wsc biolo said...

mengatasi kecemasan itu memang susah susah gampang hehe.terimaksih informasinya gan..

casino online indonesia said...

casino online indonesia
casino online
judi online
baccarat online
baccarat online indonesia
live dealer
live casino
live baccarat
komisi rollingan
live casino indonesia
casino indonesia
komisi tanpa syarat

Rosnida Zainab said...

Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

Retno Dimas said...

makasi info y

Post a Comment